GENERASI “LASKAR PELANGI” DAN MUTU PENDIDIKAN KITA

April 7, 2009 by editor  
Filed under Opini Guru

Susanto, S.Pd. saat Acara Kongres Guru Indonesia 2008“Generasi baru itu adalah pembaharuan dari generasi sebelumnya, generasi bangsa yang mempunyai intelegensi tinggi, berwawasan luas serta berani mengambil resiko. Namun bukan sekedar mengandalkan insting saja melainkan melalui pengamatan dan  metode observasi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan demikian, generasi unggul dengan sikap akhlakul karimah benar-benar nyata bukan kamuflase bahkan imajiner sekalipun.”

Hari ini adalah momentum yang tepat untuk dijadikan tonggak atau momen  perubahan bagi bangsa Indonesia khususnya yang menyangkut problema mutu pendidikan kita. Mengapa? Karena di tahun ini bangsa Indonesia dituntut untuk lebih maju di bandingkan tahun-tahun yang lalu. Dengan kata lain, tahun itu bisa dijadikan pijakan untuk membangun Indonesia yang lebih progresif dalam menata permasalahan pendidikan kita.
Indonesia harus mempunyai generasi-generasi yang tangguh, berani dan bertanggung jawab terhadap semua tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan kepada para generasi penerus bangsa oleh negara. Sehingga  pada tahun mendatang yang sering di sebut sebagai abad-21 Indonesia harus bisa melahirkan generasi-generasi baru yang aktif dan produktif hasil produk Indonesia modern yang bercirikan abad-21. Dunia pendidikan di Indonesia harus selalu aktif dan menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan oleh para siswa guna menciptakan generasi-generasi bangsa yang berkualitas. Salah satunya dengan memperhatikan mutu dunia pendidikan. Dengan cara itu,  Indonesia tahun harus memiliki citra dan image yang baik di mata dunia sebagaimana dimiliki oleh sekolah-sekolah berkualitas di seluruh dunia.
Dunia pendidikan Indonesia kita harus mencanangkan wajib belajar dua belas tahun, yakni enam tahun pembelajaran di sekolah dasar (SD), tiga tahun pembelajaran di sekolah menengah pertama (SMP), dan tiga tahun pembelajaran di sekolah menengah ke atas (SMA). Tahap pembelajaran di sekolah dasar (SD) adalah tahap pembelajaran yang paling lama diantara tahap-tahap pembelajaran yang lainnya. Pada tahap ini seorang siswa melakukan pembelajaran yang paling dasar dari tahap-tahap pembelajaran yang lain.
Setelah lulus dari tahap sekolah dasar (SD) seorang siswa menuju ke tahap berikutnya yaitu tahap pembelajaran ditingkat sekolah menengah pertama (SMP). Pada tahap ini tidak membutuhkan waktu yang relatif lama seperti di sekolah dasar (SD). Seorang siswa hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan tehap pembelajaran di tigkar sekolah menengah pertama (SMP), sedangkan meteri yang ada di sekolah menengah pertama (SMP) sebagian besar adalah pengembangan dari materi yang ada di sekolah dasar (SD). Setelah siswa selesai ditahap membelajaran ini seorang siswa harus meneruskan tahap pembelajaran berikutnya yakni tahap pembelajaran di tingkat sekolah menengah ke atas (SMA). Pada tahap ini tidak jauh beda dengan tahap pembelajaran di tingkat sebelumnya, namun pada tahap ini seorang siswa harus menentukan penjurusan yang diinginkannya.
Biasanya jika seorang siswa meneruskan pembelajaran di SMA, seorang siswa diwajibkan untuk memilih jurusan IPA, IPS atau bahkan BAHASA. Namun jika seorang siswa melanjutkan pembelajaran di SMK, atau bahkan di MAN seorang siswa diharuskan memilih jurusan yang di sediakan oleh sekolah mereka masing-masing. Jika ketiga tahap tersebut telah terpenuhi maka seorang siswa bisa juga di katakan memiliki dasar ilmu pengerahuan untuk kedepannya, agar wawasan dari seorang siswa berkembang lebih maju seorang siswa di haruskan untuk meneruskan sekolahnya ketingkat perguruan tinggi atau kuliah. Tahap ini adalah tahap akhir dari tahap-tahap pembelajaran yang talah dilaksanakan oleh siswa. Pada tingkat pembelajaran ini siswa harus bisa mengembangkan ilmu yang telah di tarimanya dan mengembangkannya semaksimal mungkin guna mendapatkan pengetahuan yang lebih mendasar dan yang paling penting jika seorang siswa telah lulus pada tingkat ini siswa akan mendapatkan gelar sesuai dengan mata pelajaran yang telah ditekuninya.
PENDIDIKAN IBARAT SEBUAH KELUARGA
Agar pendidikan Indonesia seperti saat ini sedang yang sedang dikembangkan paling tidak harus memiliki ciri khusus atau langkah kongkret guna mampu menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas atau genersi unggul dan pendidikannya bermutu maka Pertama, adalah dalam setiap proses pembelajaran siswa dan guru harus seperti keluarga, pada sektor ini murid harus di perlakukan sebagai individu yang utuh.  Maksudnya seluruh anak didik harus di didik dan mereka tidak di paksa untuk berfikir terlalu keras tanpa melalui proses pembelajaran terlebih dahulu. Misalnya jika seorang guru pengajar melakukan free test secara mendadak tanpa memberi tahu siswa terlebih dahulu maka siswa akan merasa tertekan dan memaksakan otaknya untuk mengingat materi lebih banyak dari kapasitas memori di otaknya, maka seorang siswa tidak akan memperoleh hasil yang meksimal dari sebuah free test tersebut. Lain halnya jika beberapa hari sebelum pelaksanaan free test tersebut seorang guru pengajar memberitahukan kepada anak didiknya bahwa beliau akan melaksanakan free test, maka siswa akan mempersiapkan diri terlebih dahulu guna menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan oleh guru pengajar kepada dirinya.
Kedua,  adalah proses pembelajaran laksana rumah sehat, yaitu adalah proses pembelajaran dalam membedakan manajemen dan pengambilan keputusan-keputusan secara profesional dengan melalui percobaan-percobaan yang telah terbukti kebenarannya. Karena dalam proses pembelajaran ini harus lebih dahulu melaksanakan diagnosa perspektif, proses pembelajaran ini adalah proses pendekatan yang bersifat klinik.
Ketiga adalah proses pembelajaran laksana pertempuran atau zona perang. Sebuah gambaran tentang proses pembelajaran yang harus selalu aktif dan agresif namun masih dalam situasi yang damai. Pada sektor ini seorang siswa harus bersaing secara ketat dan selektif namun masih dalam status damai guna memperoleh nilai yang terbaik di bandingkan teman-teman sebayanya. Seorang siswa harus belajar lebih giat lagi guna mempu bersaing dengan teman-teman yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi di atasnya.
Kempat adalah proses pembelajaran laksana managemen perusahaan. Proses pembelajaran ini menekankan pada sektor praktik lapangan. Pembelajaran laksana managemen perusahaan di kembangkan karena sifatnya yang mencetak generasi bangsa yang bertehnik jaringan pemasaran (assembly) dan kualitasnya terkontrol atau (quality control).
Kelima adalah proses pembelajaran sebagai organisasi kerja ilmiah pengetahuan. Di sekolah siswa harus bekerja secara teliti, sama halnya pada sektor pembelajaran rumah sehat, seorang siswa harus melakuna percobaan-percobaan yang telah terbukti kebenarannya. Ini di kuatkan dengan berbagai pekerjaan tugas dari sekolah berupa pekerjaan rumah atau (PR), pekerjaan kelas dan pekerjaan lainnya. Peserta didik ke depan akan menjadi pekerja ilmu pengerahuan yang mampu memecahkan masalah dengan melalui proses percobaan.
GENERASI “PLUS” DAN BERAKHLAKUL KARIMAH
Bangsa Indonesia harus melakukan perubahan-perunahan pada sektor pendidikan agar bangsa Indonesia mampu melahirkan generasi-generasi baru yang berkualitas. Generasi penerus bangsa harus mempu menjadi generasi penerus bangsa yang mempunyai intelegensi tinggi dan mampu memanfaatkan semua potensi alam yang ada di bumi tanah air Indonesia, mampu menanfaatkan teknologi yang ada dan mampu mencitpakan inovasi-inovasi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
Untuk itu harus memiliki beberapa orientasi.  Pertama, generasi baru itu adalah pembaharuan dari generasi sebelumnya, generasi bangsa yang mempunyai intelegensi tinggi, berwawasan luas serta berani mengambil resiko namun bukan sekedar mengandalkan insting saja melainkan melalui pengamatan serta metode observasi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Generasi baru itu harus memiliki inovasi yang terbuka terhadap prespektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan yang esensial dalam menentukan gaya hidupnya.
Kedua, generasi baru itu adalah perancang (instruktur) yang berkeupayaan tampil seperti asisten orang lain untuk menambah wawasan setra belajar dari pengalaman yang telah di alami oleh orang yang diikutinya, menciptakan banyak inovasi-inovasi baru yang mempu membantu pekerjaan orang lain, generasi baru itu harus bisa menjadi instruktur pelatih dan pengawas terhadap proyek yang sedang di kembangkan.
Ketiga, generasi baru itu adalah sebagai penemu serta mampu mengembangkan inovasi-inovasi yang telah ada, atau bisa juga diartikan sebagai pemikir sistem-sistem yang berkeupayaan menggabungkan antara kajian, mitos dan data-data yang telah ada sebelumnya.
Keempat generasi baru tersebut harus memiliki visi dan misi yang mampu memajukan bangsanya di mata dunia melalui inovasi-inovasi baru yang di temukannya. Serta mampu membantu melaksanakan visi bangsa dan negaranya serta mampu memberi inspirasi bagi setiap lapisan masyarakat. Karena masyarakaat adalah sebagai pelaku pembangunan agar bangsa Indonesia menjadi maju dan berkembang di mata dunia.
Kelima generasi baru itu adalah agen perubahan yang berkemampuan mengembangkan pemahaman dan memiliki kompeten tinggi dalam menciptakan dan mengolah perubahan bagi kehidupan bangsa agar dapat memajukan kesejahteraan bangsa.
Keenam generasi baru itu adalah polychromic coordinator yang berkeupayaan untuk dapat mengkoordinasikan banyak hal dalam wanktu yang sama yang harus dapat bekerja bersama dengan orang lain.
Ketujuh generasi baru itu berkemampuan dan berkeupayaan untuk meningkatkan pelayanan kepada orang lain. Servant and steward yang selalu melakukan pendekatan holistik untuk bekerja, memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan berkemampuan membuat keputusan bersama.
Itulah ke tujuh orientasi agar  generasi bangsa yang harus dipenuhi agar bangsa Indonesia memiliki generasi unggul sehingga menjadi maju dan berkembang di mata dunia. Dengan kata lain, agar generasi bangsa Indonesia menjadi maju dan berkembang serta unggul harus mampu melahirkan inovasi-inovasi baru guna mensejahterakan hajat hidup orang banyak, memiliki kemampuan memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara maksimal, dan mampu menggunakan tehnologi yang sudah ada serta memiliki akhlakul karimah yang tinggi. (***)

Oleh: Susanto, S.Pd *)
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 3 Bojonegoro

Comments

Feel free to leave a comment...
If you want a picture to show with your comment, go get a gravatar!