Yang kutau cinta itu indah

April 4, 2009 by editor  
Filed under Karya Kita

gambar-cinta-dalamNama panggilannya Dithan. Dia sahabatku sekaligus cinta pertamaku. Dithan begitu baik, sabar, lucu, jahil dan mempunyai senyuman yang terindah. Kurasakan hangat hatiku saat ku didekatnya. Kurasakan berjuta kebahagiaan dijiwaku. Tapi indahnya cinta itu begitu menyesakkan hatiku. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa Dithan telah menyukai seorang cewek imut, periang, dan lincah. Cewek itu bernama Ailyn, dia adik kelasku.

Bila aku ingat kejadian itu batinku semakin tersiksa dan tanpa aku sadari kadang-kadang airmata pun menetes. Taukah kau apa yang kurasakan. Aku takut kehilanganmu. Perasaan ini selalu saja datang. Hanya ada satu sayang di hatiku. Hanya ada satu cinta di hatiku. Hanya ada satu rindu dihatiku. Akan ku persembahkan hanyalah untukmu seorang…

Menjelang pergantian tahun 2008 lalu tepatnya 31 Desember 2007, Dithan berkeluh kesah saat datang ke rumahku.

Dithan bilang Ailyn itu cantik. Dithan bilang Ailyn itu imut, menarik, dan begitu berbeda. Dithan bilang mata Ailyn bagus. Aku cuma manggut-manggut saja. Bukannya aku tidak peduli, hanya saja aku yakin tanpa bereaksi apapun terhadap cerita Dithan, Dithan tak akan marah.

Malam itu, cerita Dithan sekali lagi masih berkisar pada mata indah Ailyn, plus kejengkelan Dithan karena dicuekin. Bukankah Dithan sangat tampan. Aaah.. Ailyn cewek sombong, runtukku. Tapi tak terucapkan kataku itu, karena Dithan tak memberiku kesempatan. Dithan sedang kesal, jadi aku harus duduk diam dan jadi pendengar yang baik.

Melihat Dithan bercerita selalu membuatku senang. Mata bulat itu akan berkerjap-kerjap, lalu dia akan tertawa renyah dan… aah… pokoknya lucu. Kadang-kadang aku tidak benar-benar mendengarkan cerita Dithan, hanya menikmati senyuman yang mengembang dibibirnya dan kerjapan matanya. Tapi Dithan tidak tahu itu, Dithan terlalu asyik bercerita.

Sehingga pada akhirnya aku merasa kecewa saat Dithan menyudahi pembicaraannya dan pamit pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 20:45 WIB walaupun aku sedikit mengacuhkan Dithan saat bercerita tentang sosok Ailyn.

Setelah Dithan meninggalkan rumahku. Aku putuskan untuk menyalakan komputer rumahku.

Layar komputer masih berkedip-kedip didepanku. Aku menghentikan gerakan tanganku di keyboard sejenak, membiarkan otakku menerawang bebas, berbrainstorming. Dan seuntai senyum kecil tersungging dibibirku. Ada muka tampan Dithan dimataku dan tiba-tiba tanganku menjadi lancar menari-nari diatas keyboard.

Suara dering telpon menghentikan lamunanku. Aku mengeluh, aku benci diganggu ketika otakku sedang sibuk. Dalam hati aku merutuki kecerobohanku yang tidak menggantung ganggang telepon.

“Halo!” ujarku malas

“Aifa, ini aku!” suara dari seberang telepon sontak membuat malas dan kesal ku menguap.

“Besok pagi jam delapan aku kesana setelah latihan basket. Kamu nggak sibuk kan?” tanpa menunggu jawabanku, dia memutus sambungan telepon. Dithan, the inspirator.

Kulihat jam dindingku mulai berdentang duabelas kali. Itu tandanya sudah pukul 00:00 WIB. Aku mulai mengantuk, kurebahkan tubuhku diatas kasur berwarna pink. Aku terlelap tidur.

Aku terbangun karena jam bekerku berbunyi. Matahari telah terbit dari ufuk timur. Ayam mulai berkokok. Burung-burung mulai berkicau. Matahari pun telah masuk melalui celah jendela kamarku. Aku mempersiapkan diri menyambut Dithan, my inspirator.

Menanti datangnya sang inspirator, aku mengemasi buku-buku pelajaran yang tersebar di mejaku. Kamar ini harus terlihat rapi ketika Dithan datang. Dithan tidak suka melihat segala sesuatu tidak berada ditempatnya. Buku pelajaran kukumpulkan jadi satu lalu kususun dalam rak. Ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamarku, semuanya sudah rapi.

Muka tampan Dithan muncul dari pintu. “Aku sebel, Fa!” katanya sembari meletakkan jaketnya di gantungan bajuku.

Aku bertanya melalui pandangan matanya.

“Aku benar-benar nggak menarik buat Ailyn. Apa yang salah denganku?” Dithan mengeluh lagi.

Aku tersenyum menenangkan, lalu kataku, “Nggak ada yang salah dengan kamu. Ailyn yang salah, dia sungguh bodoh karena nggak bisa melihat kesempurnaan kamu!”

Dan Dithan pun tersenyum, penuh rasa terima kasih. Lalu, Dithan pamit pulang.

Sepeninggal Dithan pulang, kucoba membuka buku catatan fisika dan tanpa terasa sudah dua jam aku membaca dan mencatat rumus di secarik kertas HVS lalu meraih buku yang lain lagi. Sudah dua jam pula aku memaksa diri menghadapi buku fisika, mencoba terlihat asyik dan menikmati, walau sebenarnya aku sangat lelah untuk mencatat rumus fisika yang sangat banyak.

Saat itu pula HP ku berbunyi, ada SMS masuk. Aku segera merogoh HP ku yang berada didalam tas dan menekan tombol ‘OK’ begitu aku menemukan HP ku.

From: d1Th@n

Fa, I really need your help. km yg paling tw surat yg hrs dTls buat Ailyn. mau bantuin kan…? >_<

Aku langsung bersemangat mendapat SMS dari Dithan walaupun isi SMS itu membuatku kesal. Aku pun membalasnya.

To: d1Th@n

I would love to ^_^

Dithan meminta bantuanku lagi, seperti biasa. Sebuah surat untuk Ailyn? A love letter I suppose, batinku. Aku tersenyum sendiri, lalu meraih secarik kertas kecil. Aku yang paling tahu apa yang harus di tulis untuk Ailyn, batinku lagi. Ailyn tidak membutuhkan sebuah surat cinta yang indah mendayu-dayu, karena toh hanya akan berakhir di tempat sampah. Surat macam inilah yang cocok: “Terlalu sulitkah buat memahami kalau dunia bukan cuma malam dan siang, bintang-bintang dan matahari, atau hujan dan kemarau?”

Aku melipat kertas kecil itu menjadi dua. Aku bahkan tak perlu membacanya dua kali sekadar untuk memastikan kalau aku telah menuliskan kalimat itu dengan tepat. Apa gunanya toh sekali lagi hanya akan berakhir di tempat sampah.

Keesokan harinya, Dithan tiba dirumahku untuk mengambil surat untuk Ailyn. Dithan membaca surat yang aku berikan. Dan aku menyalakan monitor komputerku, menunggu beberapa saat, lalu mulai mengetikkan kalimat pertama. Sembari tersenyum, ku lihat muka tampan dan senyum Dithan, dan kata-kata ku mengalir semakin lancar.

Seminggu setelah Dithan meminta bantuanku membuat surat untuk Ailyn. Malam hari di kamarku. Aku resah. Tidak tahu kenapa otakku terasa mampet. Tidak ada sebuah kalimat pun berhasil kutambahkan. Dithan baru saja keluar dari taman depan rumahku. Selama dua jam dia tak henti-hentinya berterima kasih padaku.

“Ailyn tidak secuek kemarin lagi. Ini pasti berkat surat yang kamu tulis, Fa, apapun isinya. Aku makasih banget!”

Aku tidak tahu kenapa kenyataannya itu tidak membuatku ikut happy. Ada satu kekhawatiran muncul.

“Dithan dan Ailyn, bukan lagi Dithan dan Aifa.” ucap ku pelan. Dan aku pun menjadi semakin resah.

Selama ini aku selalu menyayangi Dithan lebih dari siapapun. Aku selalu ada tiap kali Dithan membutuhkanku. Dithan selalu baik dan perhatian padaku.

Saat memikirkan Dithan HP ku berbunyi, ada SMS masuk. Aku segera mengambil HP ku yang berada dimeja dekat komputer.

From: d1Th@n

bsk pg ak jmpt km jam 8. ak mw ngajak km ke taman agro wisata coz Ailyn gak nyuekin ak lg…

gud nite.. sweet dream..

Malam yang panjang karena memikirkan ajakan Dithan membuat pikiranku lelah dan penat. Aku pun berbaring dikasur pink dan mulai melupakan muka tampan Dithan dipikiranku.

Pagi itu aku dan Dithan akan ke taman agro wisata. Motor revo hitam Dithan melaju melewati jalan menuju taman agro wisata. Disisi kiri dan kanan, rimbunan pepohonan memagari jalan. Beberapa saat kemudian motor itu berhenti dibawah pohon yang rindang.

Aku turun dari motor. Lalu, aku menghirup udara dalam-dalam kemudian duduk dibatu besar dekat pohon.

Dithan duduk tepat disebelahku.

“Udah lama ya, kita nggak main kesini,” kata Dithan membuka pembicaraan.

Aku tak menanggapi.

Suasana sepi. Hanya terdengar suara gesekan daun yang tertiup angin.

“Hmm.. ngomong-ngomong, hubunganmu sama Ailyn gimana?”

“Oh… Ailyn.. baik. Sekarang aku dah deket sama dia.” sahut Dithan antusias.

“Deket banget?”

“Malahan besok aku janjian nonton sama Ailyn. Emangnya kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku harap kamu selalu deket sama Ailyn dan dia bisa setia setiap saat dengerin keluh kesah kamu.”

“Kok gitu?” Dithan merasakan kejanggalan dengan kata-kataku.

“Iya dong soalnya kalau aku nggak ada nanti. Siapa yang mau ndengerin keluh kesah kamu?”

“Emangnya kamu mau kemana, Fa?”

“Pergi bentar.” jawabku dengan suara bergetar.

“Cuma bentar kan. Kamu mbuat aku takut!”

Aku menatap Dithan pedih. “Kamu takut?”

Dithan menganggukkan kepalanya. Aku pun tersenyum.

“Kamu kan sahabat terbaik aku. Aku nggak mau kehilangan sahabat kayak kamu!”

Ya… Cuma sahabat terbaik..

Dua hari setelah aku dan Dithan ke taman agro wisata. Aku mulai kembali memeriksakan kesehatanku.

Masih teringat dibenakku. Malam itu hening. Kata dokter penyakitku stadiumnya sudah tinggi. Bertahan pun hanya akan menunggu waktu.

Aku berjalan sendiri di trotoar menuju halte, sepulang ku dari rumah sakit. Aku menitikkan air mata yang nggak bisa ditahan lagi. Aku menyesal kenapa tidak menyadarinya. Kenapa harus sekarang..

Aku terus menyesali diri sampai-sampai nggak peduli air hujan yang malam itu tiba-tiba turun deras dan membasahi tubuhku. Tangisku tetap nggak bisa berhenti sampai tiba dihalte yang teduh. Sepi nggak ada siapa pun. Hanya kendaraan yang ramai berlalu lalang didepanku. Dalam kebingungan, aku mengambil HP dari dalam tas. Yang terbersit dalam pikiranku hanyalah seorang, Dithan…!

“Badanku basah kuyup. Ujan deres banget, Than.” suara ku lirih malam itu. “Aku sendirian dan aku baru pulang dari rumah sakit.”

“Rumah sakit? Kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Dithan dari seberang.

“Aku ceritakan nanti. Ceritanya panjang. Bisa nggak jemput aku?” jelas ku dengan nafas tersengal-sengal karena menangis.

“Kamu dimana sekarang?”

“Aku di halte dekat rumah sakit Lavalette.” jawabku dengan tubuh menggigil karena kedinginan.

“Ya udah! Kamu tunggu. Bentar lagi aku jemput!” Dithan menyudahi telepon dariku.

“Ma, Dithan pergi dulu. Mau jemput Aifa.” kata Dithan ke mamanya.

Dithan sudah siap dengan jas hujan dan helmnya.

“Ya.. hati-hati, Than.” kata mamanya mengingatkan.

Tapi suara telpon dari dalam rumah membuat Dithan kembali masuk dan mengangkatnya. “Siapa tahu dari Aifa.” ucap Dithan pelan.

“Halo…” ternyata bukan suara Aifa, melainkan Ailyn.

“Ailyn..”

“Than…” Ailyn berucap saat itu. Terdengar suara Ailyn yang sedang menangis.

“Kamu kenapa?”

Ailyn membuat Dithan nggak mampu menutup telepon itu.

“Aku bingung, Than. Aku lagi ada masalah.” pinta Ailyn.

Detik itu juga, Dithan nggak bisa menolak. Diletakkannya lagi helm yang sudah ada ditangan. Dengan berat hati, Dithan akhirnya mengirim SMS ke Aifa yang malam itu pasti sedang menunggunya.

From: d1Th@n

Fa, sorry ak g bisa jmpt km cz Ailyn tlpn sambil nangis.

cari taksi ya. hati-hati….

“Kenapa, Than. Kenapa kamu nggak pernah mau tahu.”

Aku nggak habis pikir dengan sikap Dithan. Perasaanku sangat kecewa.

“Dithan, aku disini. Nunggu kamu.”

“Kamu nggak perduli, Than.. sakitnya hatiku nunggu kamu.”

Rasanya kalimat itu ingin kuteriakkan keras-keras, tapi aku nggak mampu. Kekuatanku hilang, semangat ku rapuh, dan keyakinanku hilang. Aku yakin Dithan nggak akan pernah mengerti perasaanku…

Kulupakan sejenak perasaan yang menghancurkan hatiku. Aku berusaha sekuat tenaga berjalan untuk menyetop taksi. Dan aku juga berusaha agar tidak pingsan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku melangkah ke trotoar.

Jalan trotoar terasa begitu lembut. Aku seperti berjalan diatas awan. Aku terus mencoba melangkah, tapi tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Kesesakan dalam hatiku semakin melukai dan aku tak merasakan keberadaanku lagi.

“Tuhan, aku tahu memang ini rencana indah-Mu untukku,” bisikku perlahan dalam hati.

Akhirnya aku menyerah………

Hari itu aku belum tersadar juga. Badanku masih panas karena hujan membuat kondisiku semakin melemah.

Kamar 215 terlihat sepi. Hanya ada mamaku yang hari itu menemaniku. Wanita itu menyadari kedatangan Dithan. Ia melambaikan tangan, menyuruh Dithan masuk.

Dithan duduk disebelah tempat tidurku dan memegang tanganku yang dipasangai selang infus. Matanya menatap lurus ke mukaku. Perlahan ia berkata padaku. “Maaf, Fa. Aku nggak tahu kamu sakit.” Air mata Dithan menggenang dipelupuk matanya. “Aku disini, Fa… nemenin kamu. Aku kesepian, nggak ada yang mau ndengerin curhatanku kecuali kamu, Fa.” Dithan berusaha tersenyum. “Aku disini, Fa.. hanya untuk kamu…..”

“Kamu harus kuat, Fa. Harus kuat…” Dithan terbata-bata. “Kalo kamu sembuh kita main lagi ke taman agro wisata.. kayak dulu..” Dithan menangis. Kepalanya tertunduk, air matanya menetes ke tanganku.

Seminggu setelah aku di rumah sakit. Pagi itu aku dipindahkan keruang ICU. Kondisiku semakin kritis tabung oksigen sepertinya tidak banyak membantu. Mamaku menangis. Hanya Sifa, adikku yang bisa tenang.

“Maaf! Mana orang tua Aifa Amadis?” seorang pria berpakaian putih bertanya pada Dithan yang kebetulan berdiri paling dekat dengan pintu ruang ICU.

“Aku papanya!” papaku menjawab. “Apa yang kalian butuhkan?” tanya papaku panik, gelisah, dan sangat gugup.

“Tidak… cuma…”

“Berikan yang terbaik, kuberikan semuanya dan apa saja yang kalian mau. Kumohon tolong anakku, Aifa!” sela mamaku dengan kedua mata sembab.

“Masalahnya …,” dokter itu melanjutkan kata-katanya. “Aifa menderita diabetes, padahal dia masih anak-anak. Namun bukan itu yang menyebabkan Aifa meninggal. Dia terkena demam berdarah, karena trombositnya yang kurang dari jumlah orang normal. Sayangnya faktor ini juga didorong oleh hemofilia yang juga diderita Aifa,” Dokter menghentikan ucapannya, dia melihat orang-orang yang ada di depannya. Semua orang terlihat pucat. Nyonya Emily, mamaku menangis.

Hari itu hujan. Aku meninggal. Mungkin itu jalan yang terbaik. Itu lebih baik daripada orang-orang yang aku sayang menangis karena melihatku tersiksa melawan penyakitku.

Hari itu juga aku dimakamkan. Aneh! Mungkin aneh dari sekian banyak keluargaku yang hadir hanya Sifa, adikku yang tidak menangis dan tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir mungilnya.

Orang bilang pemakaman adalah untuk pertemuan. Semua orang berkumpul dan mengenang seseorang yang meninggalkan kita. Seperti hari itu gerimis mengiringi kepergianku.

Sifa, adikku menghampiri Dithan yang duduk disamping pusaraku.

“Aku nggak tahu apakah kamu tahu penyakit yang diderita Aifa atau tidak. Yang aku tahu, Aifa akan memberi tahu kamu tentang perasaannya lewat buku ini,” Sifa berhenti bicara, kali ini muka kebingungan ditampakkan oleh Dithan.

“Ini adalah buku harian Aifa. Semua pertanyaan kamu akan terjawab di buku ini. Perasaannya dan perasaanmu. Silakan dibaca.” ucap Sifa lalu berbalik dan meninggalkan Dithan tanpa senyuman.

Dithan mulai membuka halaman pertama buku harianku. Dia tersenyum pahit karena buku harianku adalah kado ulang tahun dari Dithan.

21 Mei 2007

Hari ini, aku ulang tahun ke-16. Ini adalah buku pertama yang diberikan Dithan untukku sekaligus buku harian pertamaku. Aku akan menyayangi buku ini seperti aku menyayangi Dithan. Terima kasih, Than. Aku seneng banget. malam ini Dithan cium kening aku, katanya sih kado sebelum mbuka kado dari dia. Duh, seneng banget…

……………………………………

……………………………

………………………

01 Agustus 2007

Aku nggak ngerti kenapa bisa jadi gini. Bayangin, Dithan ngajak aku ke taman agro aisata padahal, disana lagi ujan. Karena gugup mau pergi sama Dithan, aku lupa gak bawa jaket. Eh, dia makein jaketnya buat aku. Aku kaget dan duh, aku seneng banget deh. Nggak bisa diungkapin pake kara-kata.. De javu? I do not know. It’s just too strange for me. Aku merasakan feeling yang aneh. Belum pernah aku rasain sebelumnya. Tapi indah. I just don’t want to loose this feeling…

………………………………….

…………………………….

………………………..

29 Desember 2007

Sudah berbulan-bulan aku menulis, ya kan.. Memang benar, waktu berjalan sangat cepat. Semua yang telah kita lewati dan hadapi berjalan seperti waktu tidak pernah berdetak setiap detiknya. Mamaku benar-benar hebat. Dia bisa meluangkan waktu untukku padahal dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia selalu ada saat aku pulang sekolah.. Itu kan masih jam kerja.. Mama berarti sayang aku kan… huff.. Aku takut aku menyusahkan Mama. Belum lagi kalau Mama tahu soal penyakitku.. Hemofilia.. Penyakit sukarnya pembekuan darah.. Aku pernah dengar kalau kerabat jauh Mama dulu juga meninggal muda karena penyakit ini.. Aku gak mau buat Mama kesusahan.. Eh ada Mama,, udah dulu ya, kita lanjutin besok…

……….

…………………………

…………….

30 Desember 2007

Aduh……. Apes banget hari ini…… penyakitku kambuh di depan Papa Mama. Waktu itu aku gak sengaja kebentur ujung meja.. Sikuku gak mau berhenti berdarah… aku berusaha biasa aja. Tapi Mama nangis.. Dia teriak-teriak seperti aku mau kemana… gitu. Padahal aku masih ada di depannya.. Mereka lalu membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa.. Akhirnya ketahuan deh kalau aku kena hemofilia.. Aku gak mau membuat mereka bingung dan kelimpungan seperti itu.. Apalagi Mama sampai nangis kayak gitu dan aku gak mau Dithan tau soal penyakit yang aku derita….

……………

…………………..

……………….

31 Desember 2007

Malam ini seperti biasa Dithan maen kerumah. Dia cerita kalau sedang jatuh cinta. Betapa terkejutnya aku, cewek yang dia cintai adalah Ailyn.. aku marah, aku sebel, aku pengen nendang Ailyn jauh-jauh dari kehidupan Dithan. Tapi… apa yang bisa aku lakukan.. aku cuma bisa memandang pancaran mata cinta Dithan.. mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Dithan. Tak satupun yang aku mengerti… kenapa aku memilih untuk begini? Kenapa aku memilih untuk diam? Kenapa aku memilih untuk tenang? Bukan ini yang aku inginkan….. katakan apa yang harus kulakukan??? Aku takut jatuh cinta. Inilah hal yang aku takutkan… ‘patah hati’ tapi yang kutau cinta itu indah… iya kan????????

03 Januari 2008

Hari ini… Dithan meminta bantuanku membuat surat untuk Ailyn……. betapa sakit hatiku.. God, help me??? Aku telah bernyanyi untuknya… tapi dia tak juga bernyanyi.. aku menangis didepannya… tapi dia juga gak mengerti perasaanku… haruskah aku menangis sambil bernyanyi??

……………………………………

………………………………

……………………………

20 Februari 2008

Uh…….. Hari ini hasil pemeriksaan laboratoriumku keluar.. Lagi-lagi aku ceroboh.. Aku digigit nyamuk aedes aegypti.. Mungkin waktu itu aku lagi gak pake lotion anti nyamuk kali ya… penyakit ini bila dikombinasikan dengan hemofilia yang akan merenggut nyawaku… Mama, Papa, Sifa, dan Dithan di dunia ini gak ada yang abadi.. seperti pertemuan maka perpisahan pun gak ada yang abadi……… aku merasa ada yang hilang tapi aku menemukannya kembali.. manusia memiliki mimpi.. ada yang lari lalu mendapatkannya.. ada yang mencari lalu menemukannya… lalu ada pula yang diam menyimpan hingga batas waktu… dan aku menjadi manusia yang terakhir…….

…………………

……………………

21 Februari 2008

Tampaknya inilah saat terakhir kalinya aku menulis di dalam kertasmu yang bagus ini. Aku belum mau meninggalkan Papa, Mama, Sifa dan Dithan. Aku masih ingin membahagiakan mereka seperti mereka membahagiakanku. Tapi aku benar-benar sudah tidak kuat lagi.. Papa.. Mama.. Sifa… Dithan.. Maafkan aku.. Aku belum bisa membahagiakan kalian. Aku menyayangi kalian.. Aku tidak bisa menulis lagi. Tanganku juga sudah tidak kuat.. Ma…… hidungku gak mau berhenti berdarah… Mama.. Papa.. Sifa.. Dithan… jangan pernah tidak puas atas apa yang diberikan Tuhan. Itulah rencana-Nya yang terbaik untukku. Lakukan sebaik mungkin selagi kita bisa. Hal terindah yang kita dapatkan adalah hidup. Tapi kematian bukan akhir segalanya, ada rencana indah di balik itu semua.. Mama.. Papa.. Sifa… Dithan… Selamat tinggal… Semoga kalian bahagia.. Aku sayang kalian…..

Ps: Saat kita benar-benar menyayangi seseorang, jangan pernah buat dia menangis, buatlah dia selalu tersenyum.. Sebab kita gak akan pernah tau seberapa berharganya dia sebelum kita kehilangan dia untuk selamanya….

Dithan menengadah ke atas. Langit berselimut tebal itu kini telah meneteskan air matanya, menemani tangis pilu Dithan. Dan sebagai pengiringnya adalah suara guntur dan kilat yang sering menyambar menambah pilunya hari itu… (***).

*) Penulis adalah siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Bojonegoro. E-mail: ai_dee007@yahoo.com. Kini tinggal di Pondok Asri Bojonegoro.

Comments

Feel free to leave a comment...
If you want a picture to show with your comment, go get a gravatar!